Sebagai orang tua, Anda mungkin pernah merasa khawatir ketika melihat mata bayi tampak tidak sejajar. Sekilas terlihat seperti juling, tetapi saat diperhatikan lagi, posisi bola mata tampak normal. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai mata juling semu.
Banyak orang tua langsung panik dan mengira anak mengalami strabismus. Padahal, dalam banyak kasus, kondisi tersebut hanyalah pseudo-strabismus. Lalu sebenarnya pseudo strabismus adalah apa? Apakah berbahaya? Dan bagaimana cara memastikan bahwa itu hanya juling semu, bukan juling sungguhan? Yuk, pahami penjelasan lengkapnya agar Anda tidak salah menilai kondisi mata si kecil.
Baca Juga: Pantangan & Larangan Pasca Operasi Katarak, Wajib Dipatuhi
Apa Itu Pseudo-Strabismus?
Secara sederhana, pseudo strabismus adalah kondisi ketika mata bayi terlihat juling, padahal sebenarnya posisi dan koordinasi kedua bola mata normal. Istilah lainnya adalah mata juling semu.
Kondisi ini paling sering terjadi pada bayi dan balita. Penyebab utamanya bukan gangguan otot mata, melainkan faktor anatomi wajah, terutama:
- Lipatan kulit di sudut dalam mata, yang disebut epicanthal folds
- Pangkal hidung yang masih datar atau lebar
- Jarak antar mata yang relatif dekat
Karena bentuk wajah bayi memang belum berkembang sempurna, bayangan putih di bagian dalam mata bisa tertutup sebagian oleh lipatan kulit. Akibatnya, mata tampak seperti mengarah ke dalam.
Kabar baiknya, pseudo-strabismus tidak memerlukan terapi khusus. Seiring pertumbuhan wajah dan tulang hidung yang semakin menonjol, tampilan juling semu biasanya akan menghilang dengan sendirinya.
Namun, penting untuk tetap memastikan bahwa kondisi tersebut benar-benar hanya juling semu, bukan strabismus yang sesungguhnya.
Baca Juga: Jenis Sakit Mata pada Anak: Penyebab, Gejala & Penanganannya
Cara Membedakan Juling Asli dan Juling Semu
Membedakan antara juling asli dan mata juling semu memang tidak selalu mudah bagi orang tua. Namun, ada beberapa tanda yang bisa Anda perhatikan.
1. Refleks Cahaya pada Mata
Dalam pemeriksaan sederhana, dokter akan menyorotkan cahaya kecil ke arah mata bayi. Jika pantulan cahaya berada di posisi yang sama pada kedua mata, besar kemungkinan itu hanya pseudo-strabismus.
Sebaliknya, jika refleks cahaya tidak sejajar, bisa jadi itu adalah strabismus yang sesungguhnya.
2. Konsistensi Posisi Mata
Pada juling asli, salah satu mata benar-benar mengarah ke dalam, luar, atas, atau bawah secara konsisten. Sedangkan pada juling semu, posisi bola mata tetap sejajar meskipun terlihat seperti juling dari sudut tertentu.
3. Perkembangan Seiring Usia
Jika tampilan juling semakin berkurang seiring pertumbuhan anak, kemungkinan besar itu adalah kondisi normal. Inilah mengapa memahami ciri mata bayi normal sangat penting agar Anda tidak salah menginterpretasikan.
4. Adanya Gejala Lain
Strabismus asli bisa disertai gejala seperti sering memiringkan kepala, menyipitkan mata, atau kesulitan fokus pada objek.
Jika Anda ragu, jangan hanya mengandalkan pengamatan visual di rumah. Pemeriksaan profesional tetap menjadi langkah terbaik.
Baca Juga: Ciri-ciri Retina Mata Bermasalah, Tidak Boleh Diabaikan
Mengapa Bentuk Wajah Mempengaruhi Tampilan Mata?
Salah satu alasan utama mengapa pseudo strabismus adalah kondisi yang umum terjadi pada bayi berkaitan dengan struktur wajah yang belum matang.
Pada bayi:
- Pangkal hidung masih rendah dan datar
- Lipatan kulit di sudut mata cukup tebal
- Jarak antar mata tampak lebih dekat
Kombinasi ini menciptakan ilusi visual seolah-olah mata mengarah ke dalam. Padahal, jika dilihat dari posisi bola mata sebenarnya, keduanya tetap sejajar.
Seiring bertambahnya usia, tulang hidung akan berkembang dan wajah menjadi lebih proporsional. Lipatan epicanthal pun tampak berkurang. Inilah mengapa banyak kasus mata juling semu membaik secara alami tanpa intervensi medis.
Memahami faktor anatomi ini membantu Anda mengenali ciri mata bayi normal sehingga tidak terburu-buru menyimpulkan adanya gangguan.
Pentingnya Pemeriksaan secara Profesional oleh Dokter
Walaupun pseudo-strabismus tergolong kondisi normal, pemeriksaan mata tetap penting dilakukan, terutama jika:
- Tampilan juling tidak membaik setelah usia 1–2 tahun
- Salah satu mata terlihat sering menyimpang
- Ada riwayat juling dalam keluarga
- Anak tampak kesulitan mengikuti objek bergerak
Dokter spesialis mata akan melakukan serangkaian tes sederhana untuk memastikan apakah benar hanya mata juling semu atau terdapat strabismus yang memerlukan terapi.
Deteksi dini sangat penting karena strabismus yang tidak ditangani bisa menyebabkan ambliopia atau mata malas. Kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan penglihatan jangka panjang anak.
Jadi meskipun Anda merasa kondisi tersebut termasuk ciri mata bayi normal, tetaplah lakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan tumbuh kembang visual berjalan optimal.
Banyak orang tua panik ketika melihat mata bayi tampak tidak sejajar. Padahal, dalam banyak kasus, pseudo strabismus adalah kondisi normal akibat bentuk wajah yang masih berkembang. Istilah lainnya adalah mata juling semu, yang umumnya tidak berbahaya dan membaik seiring pertumbuhan.
Namun, Anda tetap perlu waspada dan memahami perbedaannya dengan juling asli. Mengenali ciri mata bayi normal dan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter adalah langkah terbaik untuk memastikan kesehatan mata si kecil.
Periksakan kesehatan mata anak secara rutin di klinik mata IEC Eye Care! Dapatkan pelayanan kesehatan terbaik dari dokter spesialis mata profesional berpengalaman sekarang.
Referensi:
- All About Vision. 2022. Pseudostrabismus: Symptoms, Diagnosis, and Outcome. https://www.allaboutvision.com/conditions/strabismus/pseudostrabismus/
- American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus. 2023. Pseudostrabismus. https://aapos.org/glossary/pseudostrabismus
- EyeWiki. 2026. Pseudostrabismus. https://eyewiki.org/Pseudostrabismus
- NHS University Hospital Sussex. 2025. Pseudostrabismus – Orthoptic Department. https://www.uhsussex.nhs.uk/wp-content/uploads/2023/05/2291.1-Pseudostrabismus-2025.pdf
- WbMD. 2024. What Is Pseudostrabismus?. https://www.webmd.com/eye-health/what-is-pseudostrabismus


