Pernahkah Anda mengalami mata yang terus-menerus berair, seperti menangis tanpa sebab? Kondisi ini tentu mengganggu kenyamanan dan penglihatan.
Salah satu penyebab paling umum di balik masalah ini adalah saluran air mata tersumbat. Sistem drainase air mata yang tersumbat tidak dapat mengalirkan cairan dengan baik, sehingga mata menjadi lembap dan berair secara berlebihan. Kondisi ini bisa dialami oleh siapa saja, mulai dari bayi baru lahir hingga orang lanjut usia.
Pada bayi, penyumbatan sering terjadi karena sistem saluran air mata yang belum berkembang sempurna atau adanya selaput tipis yang belum terbuka. Sementara itu, pada orang dewasa, penyebabnya bisa bervariasi mulai dari proses penuaan yang menyebabkan saluran menyempit, hingga cedera pada wajah, infeksi kronis, atau bahkan efek samping dari pengobatan tertentu seperti kemoterapi.
Untuk menemukan solusi yang tepat, langkah awalnya adalah dengan memahami akar masalahnya.
Mengapa Mata Bisa Berair Terus-menerus?
Untuk memahami mengapa mata bisa berair terus, kita perlu mengenal sistem produksi dan drainase air mata. Air mata diproduksi oleh kelenjar lakrimal yang terletak di atas kelopak mata atas. Setelah membasahi bola mata, air mata akan mengalir ke dua lubang kecil (punctum) di sudut mata bagian dalam, dekat hidung. Dari sana, air mata masuk ke kantung air mata (lakrimal) dan kemudian mengalir melalui saluran nasolakrimal menuju rongga hidung.
Mata berair terus terjadi ketika terdapat hambatan di jalur drainase ini, sebuah kondisi yang disebut dakriostenosis. Akibatnya, air mata tidak bisa mengalir ke hidung dan malah meluap keluar ke pipi. Ironisnya, mata kering pun bisa memicu mata berair. Ketika permukaan mata kering dan teriritasi, kelenjar air mata justru memproduksi air mata secara berlebihan sebagai respons refleks untuk mengatasi iritasi tersebut.
Selain penyumbatan, ada beberapa penyebab lain yang perlu dipertimbangkan. Infeksi saluran pernapasan atas seperti flu, alergi (rhinitis alergi atau konjungtivitis alergi), serta posisi kelopak mata yang salah (seperti kelopak terbalik ke dalam atau ke luar) juga dapat mengganggu aliran air mata. Oleh karena itu, pemeriksaan oleh dokter mata sangat penting untuk menentukan penyebab pasti dari keluhan Anda.
Baca juga: Apa itu Okuloplasti?
Tanda-tanda Infeksi Saluran Air Mata (Dakriosistitis)
Ketika saluran air mata tersumbat, air mata yang menggenang di kantung air mata menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi bakteri. Kondisi ini dapat memicu infeksi yang dikenal sebagai dacryocystitis atau dakriosistitis, yaitu infeksi pada kantung air mata. Infeksi ini bisa muncul secara tiba-tiba (akut) atau berlangsung lama (kronis).
Pada dakriosistitis akut, gejalanya muncul dengan cepat dan cukup jelas. Anda mungkin merasakan nyeri, kemerahan, dan pembengkakan yang signifikan di area sudut dalam mata, dekat hidung. Daerah ini akan terasa sangat sakit jika ditekan, dan bahkan bisa mengeluarkan nanah dari lubang kecil di sudut mata (punctum). Infeksi yang parah juga dapat disertai demam.
Sementara itu, dakriosistitis kronis gejalanya lebih ringan tetapi mengganggu dalam jangka panjang. Biasanya, tidak ada rasa sakit yang signifikan, tapi kulit di atas kantung air mata akan tampak menonjol. Jika ditekan, cairan kental seperti nanah mungkin keluar dari punctum. Penderita juga sering mengalami mata berair terus-menerus dan konjungtivitis (mata merah) yang tidak kunjung sembuh. Kedua kondisi ini perlu segera ditangani.
Baca juga: Blefaroplasti, Operasi Kantung Mata
Prosedur DCR: Solusi Paten untuk Saluran yang Buntu
Jika infeksi atau penyumbatan tidak kunjung membaik dengan pengobatan konservatif seperti antibiotik atau kompres hangat, dokter biasanya akan merekomendasikan tindakan bedah. Prosedur standar untuk mengatasi saluran air mata tersumbat pada orang dewasa adalah operasi Dakriosistorinostomi atau DCR. Tujuan utama operasi ini adalah untuk membuat jalur baru bagi air mata agar dapat mengalir langsung dari kantung air mata ke dalam rongga hidung, melewati bagian saluran yang tersumbat.
Ada dua teknik utama yang umum dilakukan untuk prosedur DCR. Pertama adalah DCR eksternal, di mana dokter bedah membuat sayatan kecil pada kulit di samping hidung, dekat sudut mata, untuk mengakses kantung air mata dan membuat saluran baru ke hidung. Kedua adalah DCR endoskopik, teknik yang lebih modern dan minimal invasif. Dengan menggunakan endoskop yang dimasukkan melalui lubang hidung, dokter bedah membuat saluran baru dari dalam hidung tanpa membuat sayatan pada kulit wajah, sehingga tidak meninggalkan bekas luka dan waktu pemulihan lebih cepat.
Pilihan teknik operasi akan didiskusikan oleh dokter spesialis mata berdasarkan kondisi pasien. Terkadang, dokter juga akan memasang tabung silikon kecil (stent) untuk menjaga agar saluran baru tetap terbuka selama masa penyembuhan, yang nantinya akan dilepas beberapa minggu kemudian di klinik. Prosedur DCR terbukti sangat efektif untuk mengatasi sumbatan dan mencegah infeksi berulang.
Baca juga: Penyebab Kelopak Mata Turun
Perawatan Pasca Operasi Saluran Air Mata
Kesuksesan operasi DCR tidak hanya ditentukan oleh keahlian dokter, tetapi juga oleh kepatuhan pasien dalam menjalani perawatan pasca operasi. Pada masa awal pemulihan, pasien mungkin akan merasakan sedikit ketidaknyamanan. Sangat penting untuk mengikuti semua instruksi dokter, seperti menggunakan obat tetes mata antibiotik atau antiradang yang diresepkan untuk mencegah infeksi dan mengurangi pembengkakan.
Kebersihan area sekitar mata dan hidung juga harus dijaga. Hindari membuang ingus terlalu keras selama beberapa waktu karena bisa memengaruhi jalur baru yang sedang dalam masa penyembuhan. Jika Anda menjalani DCR eksternal dengan jahitan, dokter akan menjelaskan kapan jahitan tersebut harus dilepas, biasanya sekitar satu minggu setelah operasi.
Komplikasi pasca operasi DCR sebenarnya jarang terjadi, akan tetapi tetap perlu diwaspadai. Beberapa risiko yang mungkin timbul antara lain perdarahan berlebihan, infeksi, atau cedera pada struktur di sekitar mata dan hidung.
Jika Anda mengalami demam, nyeri yang tidak tertahankan, atau perdarahan yang banyak, segera hubungi dokter Anda. Dengan perawatan yang tepat, prosedur DCR memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam mengatasi masalah mata berair terus dan infeksi kantung air mata.
Anda bisa mendapatkan berbagai informasi terkait kesehatan mata, termasuk tentang saluran air mata yang tersumbat di website kami atau kunjungi klinik mata IEC Eye Care untuk berkonsultasi dengan spesialis mata profesional.
Referensi:
- Blocked tear duct-Blocked tear duct – Symptoms & causes – Mayo Clinic. (2025). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/blocked-tear-duct/symptoms-causes/syc-20351369
- Blocked tear duct-Blocked tear duct – Symptoms & causes – Mayo Clinic. (2025). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/blocked-tear-duct/symptoms-causes/syc-20351369
- Tear Duct Infection (Dacryocystitis) – Harvard Health. (2018, October 26). Harvard Health. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/tear-duct-infection-dacryocystitis-a-to-z
- Dacryocystitis (Tear Duct Infection): Symptoms, Causes & Treatment. (2023, September 8). Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/24419-dacryocystitis
- Allen, R. C. (2026). Dacryocystitis. MSD Manual Professional Edition; MSD Manuals. https://www.msdmanuals.com/professional/eye-disorders/eyelid-and-lacrimal-disorders/dacryocystitis




