Melihat kelopak mata si kecil tampak lebih turun dari biasanya tentu bisa membuat orang tua khawatir. Apalagi jika kondisi ini terlihat sejak lahir atau mulai jelas saat bayi memasuki usia beberapa minggu pertama. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai ptosis kongenital, yaitu kelopak mata atas yang turun karena gangguan pada otot pengangkat kelopak yang sudah ada sejak lahir.
Meski sekilas tampak seperti masalah penampilan, ptosis pada bayi dan anak tidak boleh dianggap sepele. Pada beberapa kasus, kelopak mata yang turun bisa menutupi pupil dan menghalangi masuknya cahaya ke mata. Jika dibiarkan terlalu lama, kondisi ini dapat mengganggu perkembangan penglihatan anak dan meningkatkan risiko mata malas atau ambliopia.
Banyak orang tua juga bertanya-tanya, apakah ptosis kongenital bisa sembuh sendiri seiring pertumbuhan anak? Atau justru perlu segera dioperasi? Jawabannya tergantung pada tingkat keparahan, penyebab, serta dampaknya terhadap fungsi penglihatan si kecil. Supaya Anda lebih memahami kondisi ini, penting untuk mengenali gejala, penyebab ptosis anak, dampaknya pada perkembangan penglihatan, serta kapan operasi perlu dilakukan.
Baca juga: Apa Penyebab Ptosis atau Kelopak Mata Turun? Ini Penjelasannya
Ptosis pada Bayi atau Anak
Ptosis pada bayi adalah kondisi ketika kelopak mata atas berada lebih rendah dari posisi normal. Kondisi ini bisa terjadi pada satu mata saja atau pada kedua mata sekaligus. Pada beberapa anak, kelopak mata turun hanya ringan dan tidak terlalu mengganggu pandangan. Namun pada kasus lain, kelopak mata bisa menutupi sebagian besar pupil sehingga anak kesulitan melihat dengan jelas.
Ptosis kongenital biasanya terjadi karena otot levator, yaitu otot yang berfungsi mengangkat kelopak mata, tidak berkembang dengan baik sejak dalam kandungan. Akibatnya, kelopak mata tidak bisa terangkat secara normal.
Kondisi ini berbeda dengan ptosis yang muncul pada usia dewasa. Pada anak, perhatian utama bukan hanya soal penampilan, tetapi juga perkembangan penglihatan. Masa bayi dan anak-anak adalah periode penting ketika otak sedang belajar memproses rangsangan visual dari kedua mata. Jika salah satu mata tertutup oleh kelopak yang turun, perkembangan penglihatan dapat terganggu.
Selain itu, beberapa anak dengan ptosis sering mengompensasi kondisi ini dengan cara mendongakkan kepala atau mengangkat alis terus-menerus agar bisa melihat lebih jelas. Jika berlangsung lama, kebiasaan ini dapat menimbulkan masalah postur atau ketegangan pada area dahi dan leher.
Karena itu, ptosis kongenital perlu dievaluasi oleh dokter mata sejak dini agar dapat diketahui apakah kondisi tersebut aman dipantau atau membutuhkan tindakan lebih lanjut.
Baca juga: Mengenal Penyakit Mata Tiroid dan Penyebabnya
Mengenal Gejala Ptosis Kongenital pada Bayi
Gejala ptosis kongenital biasanya cukup mudah dikenali, terutama jika kelopak mata terlihat jelas lebih turun dibandingkan mata satunya. Namun pada kasus ringan, tanda-tandanya kadang tidak langsung disadari. Berikut beberapa gejala ptosis kongenital yang perlu Anda perhatikan:
1. Kelopak Mata Tampak Lebih Turun
Ini adalah tanda paling umum. Salah satu atau kedua kelopak mata atas terlihat lebih rendah dari posisi normal. Pada beberapa bayi, kelopak mata hampir menutupi sebagian pupil.
2. Mata Terlihat Tidak Simetris
Jika ptosis hanya terjadi pada satu sisi, mata anak mungkin tampak tidak sama besar atau tidak seimbang.
3. Anak Sering Mendongakkan Kepala
Bayi atau anak mungkin sering mengangkat dagu atau menengadahkan kepala agar bisa melihat melewati kelopak mata yang turun. Posisi ini sering disebut sebagai chin-up posture.
4. Alis Sering Terangkat
Sebagian anak secara refleks mengangkat alis untuk membantu membuka kelopak mata lebih lebar. Ini bisa membuat dahi tampak sering tegang.
5. Respons Visual Terlihat Kurang Optimal
Pada bayi, Anda mungkin melihat ia kurang fokus mengikuti benda atau wajah jika kelopak mata menutupi area pandang. Tentu gejala ini perlu dinilai lebih lanjut oleh dokter karena bisa berkaitan dengan banyak faktor lain.
6. Kelopak Mata Tidak Banyak Bergerak Saat Melihat ke Atas
Pada beberapa kasus, otot pengangkat kelopak yang lemah membuat gerakan kelopak tampak terbatas.
Penting untuk diketahui bahwa ptosis pada bayi tidak selalu menyebabkan nyeri atau rewel. Karena itu, kondisi ini sering luput sampai orang tua melihat ada perbedaan bentuk mata yang menetap.
Penyebab Kondisi Ptosis Kongenital
Secara umum, penyebab ptosis anak yang paling sering adalah gangguan perkembangan otot levator sejak lahir. Otot ini seharusnya bekerja untuk mengangkat kelopak mata atas. Jika otot tidak berkembang sempurna, kemampuan kelopak mata untuk terbuka menjadi berkurang. Berikut beberapa penyebab yang dapat mendasari ptosis kongenital:
1. Gangguan Perkembangan Otot Levator
Ini merupakan penyebab paling umum. Otot levator menjadi lemah, tipis, atau tidak bekerja optimal sehingga kelopak mata turun.
- Faktor Bawaan Sejak Lahir: Pada sebagian anak, kondisi ini muncul tanpa sebab yang jelas dan sudah ada sejak lahir. Kadang tidak ditemukan gangguan lain selain posisi kelopak yang turun.
- Kelainan Saraf: Pada beberapa kasus, ptosis dapat berkaitan dengan gangguan saraf yang mengatur otot kelopak mata. Meski lebih jarang, kondisi ini tetap perlu dipertimbangkan bila terdapat gejala lain.
- Sindrom atau Kelainan Bawaan: Sebagian kecil kasus ptosis kongenital dapat menjadi bagian dari kelainan bawaan lain yang memengaruhi otot, saraf, atau perkembangan wajah.
- Riwayat Keluarga: Terdapat kondisi di mana ptosis tampak terjadi dalam keluarga, meski tidak selalu. Faktor genetik dapat berperan pada sebagian anak.
Menentukan penyebab ptosis anak sangat penting karena dokter perlu memastikan apakah ptosis berdiri sendiri atau berkaitan dengan masalah lain pada mata dan sistem saraf.
Dampak Ptosis terhadap Perkembangan Penglihatan Anak
Inilah alasan mengapa ptosis kongenital tidak boleh dianggap sepele. Pada masa awal kehidupan, sistem penglihatan anak sedang berkembang sangat cepat. Mata yang tidak mendapatkan stimulasi visual yang cukup berisiko mengalami gangguan. Berikut beberapa dampak yang mungkin terjadi:
1. Ambliopia atau Mata Malas
Jika kelopak mata menutupi pupil dan menghalangi cahaya masuk, otak akan menerima gambar yang kurang jelas dari mata tersebut. Lama-kelamaan, otak bisa “mengabaikan” mata yang tertutup. Kondisi ini disebut ambliopia atau mata malas.
2. Astigmatisme atau Kelainan Refraksi
Tekanan dari kelopak mata yang turun pada permukaan kornea dapat memengaruhi bentuk kornea. Akibatnya, anak bisa mengalami astigmatisme yang membuat penglihatan kabur.
3. Gangguan Penglihatan Binokular
Jika salah satu mata tidak digunakan dengan baik, kemampuan kedua mata bekerja sama juga bisa terganggu. Ini dapat memengaruhi persepsi kedalaman dan koordinasi visual.
4. Keterlambatan Perkembangan Visual
Pada bayi dan balita, gangguan penglihatan dapat berdampak pada proses belajar mengenali wajah, mengikuti objek, hingga perkembangan motorik tertentu.
5. Gangguan Postur
Anak yang terus-menerus mendongakkan kepala agar bisa melihat berisiko mengalami gangguan postur leher dalam jangka panjang.
Karena itu, tujuan penanganan ptosis pada bayi bukan sekadar memperbaiki tampilan mata, tetapi terutama melindungi perkembangan penglihatan anak selama masa emas pertumbuhan.
Usia Terbaik untuk Melakukan Operasi Ptosis Anak
Tidak ada satu usia yang mutlak sama untuk semua kasus. Usia terbaik untuk melakukan operasi ptosis anak sangat bergantung pada tingkat keparahan ptosis dan apakah penglihatan sudah terancam.
- Jika Ptosis Menutupi Pupil atau Mengganggu Penglihatan: Pada kondisi ini, operasi bisa dianjurkan lebih dini. Tujuannya adalah mencegah ambliopia dan memastikan mata mendapatkan rangsangan visual yang cukup untuk berkembang normal.
- Jika Ptosis Ringan dan Tidak Mengganggu Penglihatan: Dokter mungkin menyarankan observasi hingga anak lebih besar. Operasi sering dipertimbangkan saat usia prasekolah, ketika struktur wajah sedikit lebih berkembang dan evaluasi fungsi kelopak bisa dilakukan lebih akurat.
- Jika Ada Kebiasaan Mendongak yang Berat: Meski pupil tidak tertutup total, operasi bisa dipertimbangkan lebih awal bila anak harus terus-menerus mendongakkan kepala untuk melihat.
Keputusan operasi akan mempertimbangkan beberapa faktor:
- Posisi kelopak terhadap pupil
- Fungsi otot levator
- Adanya ambliopia atau astigmatisme
- Posisi kepala anak,
- Kesehatan mata secara keseluruhan.
Dokter juga bisa menyarankan pemeriksaan lanjutan seperti evaluasi ketajaman penglihatan, refraksi, dan kondisi kornea sebelum menentukan waktu operasi.
Baca juga: Ini Panduan Diet untuk Kesehatan Otot Mata, Catat Apa Saja!
Periksakan Ptosis Anak Sejak Dini ke Dokter Mata
Ptosis kongenital bukan hanya masalah tampilan kelopak mata, tetapi juga bisa memengaruhi perkembangan penglihatan anak jika tidak ditangani dengan tepat. Karena kondisi ini umumnya tidak sembuh sendiri, pemeriksaan sejak dini sangat penting untuk menilai tingkat keparahan, mencari penyebab ptosis anak, dan menentukan apakah si kecil membutuhkan observasi rutin atau tindakan operasi.
Jika Anda melihat tanda ptosis pada bayi atau anak, seperti kelopak mata turun, mata tidak simetris, atau kebiasaan mendongakkan kepala saat melihat, jangan menunda pemeriksaan. Evaluasi yang cepat dapat membantu mencegah risiko mata malas, kelainan refraksi, dan gangguan penglihatan jangka panjang.
Anda bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis di klinik mata IEC Eye Care untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh dan penanganan yang sesuai dengan kondisi si kecil. Dengan dukungan tim dokter berpengalaman dan fasilitas pemeriksaan mata yang lengkap, kami siap membantu menjaga kesehatan mata anak sejak dini.
Referensi:
- Cleveland Clinic Abu Dhabi. 2023. Congenital Ptosis. https://www.clevelandclinicabudhabi.ae/en/health-hub/health-resource/diseases-and-conditions/congenital-ptosis
- EyeWiki. 2026. Ptosis, Congenital. https://eyewiki.org/Ptosis,_Congenital
- Kratky, Vladimir. 2020. Treatment of Congenital Ptosis. https://aes.amegroups.org/article/view/5709/html
- MedlinePlus. 2025. Ptosis – Infants and Children. https://medlineplus.gov/ency/article/003035.htm
- Nationwide Children’s. Pediatric Ptosis. https://www.nationwidechildrens.org/conditions/pediatric-ptosis


