Skip to content

Phakic IOL vs Soft Lens, Mana Lebih Aman Jangka Panjang?

phakic-iol-dibandingkan-soft-lens

Masalah mata minus, silinder, atau kombinasi keduanya sering kali membuat seseorang bergantung pada softlens selama bertahun-tahun. Namun, seiring bertambahnya usia dan tingginya kebutuhan visual, muncul pertanyaan penting: apakah penggunaan softlens aman untuk jangka panjang? Di sisi lain, kemajuan teknologi kedokteran mata menghadirkan Phakic IOL sebagai solusi alternatif dalam tindakan bedah refraktif, terutama bagi pasien dengan minus tinggi atau kondisi mata tertentu. Artikel ini akan membahas secara komprehensif perbandingan Phakic IOL vs soft lens, terutama dari sisi keamanan jangka panjang, kenyamanan, dan kecocokan untuk kondisi mata tertentu. Simal kelebihan phakic IOL dibanding softlens lewat ulasan di bawah ini.

Baca Juga: Operasi LASIK Pakai BPJS? Seperti Ini Penjelasan & Syaratnya

Memahami Peran Kornea dan Kebutuhan Oksigennya

Kornea adalah lapisan bening di bagian depan mata yang berperan besar dalam memfokuskan cahaya. Tidak seperti jaringan tubuh lain, kornea tidak memiliki pembuluh darah, sehingga kebutuhan oksigennya dipenuhi langsung dari udara dan air mata.

Inilah alasan mengapa kornea sangat sensitif terhadap gangguan suplai oksigen. Ketika aliran oksigen terganggu, kornea bisa mengalami stres, pembengkakan, hingga kerusakan jaringan yang meningkatkan risiko infeksi.

Baca Juga: Tingkat Keberhasilan Operasi LASIK, Benarkah Bisa Gagal?

Efek Penggunaan Soft Lens Jangka Panjang

Meskipun soft lens banyak digunakan sebagai alat bantu penglihatan, pemakaian dalam jangka panjang dapat memicu berbagai komplikasi pada mata. Beberapa gejala yang dapat muncul akibat pemakaian soft lens jangka panjang antara lain:

  • Penurunan ketajaman penglihatan
  • Mata tampak merah akibat pelebaran pembuluh darah konjungtiva
  • Rasa tidak nyaman hingga intoleransi terhadap lensa kontak
  • Berkurangnya sensitivitas kornea sehingga mata terasa “kebal” terhadap rangsangan nyeri

Gejala ini sering diabaikan, padahal bisa menjadi tanda awal gangguan serius pada kornea. Komplikasi tertentu juga bisa muncul secara langsung akibat lensa kontak, atau diperparah oleh kebiasaan pemakaian yang kurang tepat. Di bawah ini beberapa jenis komplikasi mata yang sering terjadi pada pengguna soft lens.

1. Kerusakan Lapisan Permukaan Kornea (De-epitelisasi Kornea)

Softlens dapat mengubah fisiologi dan struktur lapisan epitel kornea. Perubahan ini berpotensi mengganggu integritas kornea dan memicu kondisi seperti:

  • Luka kecil pada permukaan kornea
  • Abrasi epitel
  • Iritasi akibat gesekan lensa
  • Terbentuknya mikrostruktur abnormal pada kornea

Pada kondisi tertentu, komplikasi ini bisa memperburuk mata kering dan meningkatkan risiko infeksi.

2. Edema Kornea akibat Kekurangan Oksigen

Kornea tidak memiliki pembuluh darah sehingga sangat bergantung pada oksigen dari udara. Soft lens, terutama yang dipakai terlalu lama atau tidak sesuai ukuran, dapat menghambat suplai oksigen ke kornea. Akibatnya, dapat terjadi edema kornea, yaitu pembengkakan kornea yang menyebabkan:

  • Penglihatan buram
  • Sensasi tidak nyaman
  • Penurunan kualitas visual

Edema kornea sering terjadi pada pemakai soft lens jangka panjang, terutama jika bahan lensa memiliki permeabilitas oksigen yang renda dan lensa dipakai melebihi waktu yang dianjurkan oleh dokter.

3. Perubahan Bentuk Kornea (Distorsi Kornea)

Pemakaian soft lens terus-menerus dapat menimbulkan efek “molding” pada kornea, yaitu perubahan bentuk kelengkungan kornea secara perlahan. Dampaknya dari penggunaan soft lens dalam jangka panjang, antara lain:

  • Perubahan ukuran minus atau silinder
  • Astigmatisme tidak teratur
  • Penglihatan menjadi tidak stabil

Pada beberapa kasus, distorsi kornea dapat menyulitkan penilaian refraksi mata dan menghambat rencana tindakan koreksi penglihatan lanjutan.

4. Penurunan Sensitivitas Kornea (Hipoestesia)

Semua jenis lensa kontak dapat menurunkan sensitivitas kornea. Kondisi ini disebut hipestesia kornea, di mana mata menjadi kurang peka terhadap rangsangan. Hal ini disebabkan oleh trauma berulang akibat gesekan lensa dan perubahan metabolisme sel saraf kornea. Bahaya dari kondisi ini adalah luka atau infeksi pada kornea bisa tidak terasa sejak awal, sehingga terlambat ditangani.

5. Infiltrat Steril pada Kornea

Infiltrat steril merupakan reaksi imun pada kornea yang sering membingungkan karena gejalanya mirip infeksi. Kondisi ini bisa dipicu oleh:

  • Reaksi inflamasi akibat soft lens
  • Racun bakteri (endotoksin)
  • Kombinasi keduanya

Biasanya infiltrat muncul di bagian tepi kornea dan tidak selalu disertai luka terbuka. Meski bukan infeksi, kondisi ini tetap memerlukan pengawasan ketat karena berisiko berkembang menjadi keratitis mikroba.

6. Keratitis Mikroba, Komplikasi Paling Serius

Keratitis mikroba merupakan salah satu komplikasi paling berbahaya akibat penggunaan soft lens. Lensa kontak dikenal sebagai faktor risiko utama terjadinya infeksi kornea ini. Risikonya meningkat jika:

  • Kebersihan lensa tidak terjaga
  • Lensa dipakai terlalu lama
  • Lensa digunakan saat tidur

Keratitis mikroba dapat menimbulkan beberapa gejala, antara lain:

  • Nyeri hebat
  • Penurunan penglihatan mendadak
  • Luka permanen pada kornea
  • Risiko kebutaan bila terlambat ditangani

Baca Juga: Syarat untuk Bisa Operasi LASIK, Adakah Maksimal Minus?

Apa Itu Phakic IOL?

apa-itu-phakic-iol

Phakic IOL adalah prosedur operasi penanaman lensa berbahan plastik atau silikon pada mata untuk mengatasi miopia (rabun jauh) atau hipermetropia (rabun dekat). Prosedur ini dilakukan dengan penanaman lensa di dalam mata, tepatnya di depan lensa asli mata untuk membantu mengoreksi kelainan refraksi seperti miopia dan hipermetropia.

Prosedur phakic IOL ini dilakukan sebagai alternatif pada orang yang tidak dapat melakukan operasi mata laser (LASIK) karena kondisi derajat kelainan refraksi yang sangat tinggi atau kelainan refraksi yang tidak dapat dikoreksi dengan LASIK.

Baca Juga: Apakah Tetap Butuh Kacamata Setelah Operasi LASIK?

Keuntungan Melakukan Prosedur Phakic IOL

Seiring berkembangnya teknologi, kini penderita kelainan refraksi dapat memperbaiki penglihatan dengan menjalani prosedur phakic IOL. Prosedur ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan prosedur lainnya, seperti:

  • Dapat mengoreksi rabun jauh berat (derajat minus tinggi).
  • Kualitas penglihatan lebih tajam dan stabil
  • Koreksi kelainan refraksi mata dengan akurasi tinggi
  • Risiko mata kering lebih kecil, sehingga cocok untuk orang dengan sindrom mata kering.
  • Bersifat permanen, namun dapat dilepas kembali jika diperlukan.
  • Memperbaiki penglihatan, termasuk penglihatan pada malam hari.
  • Risiko infeksi lebih rendah karena tidak perlu pemasangan atau pelepasan lensa harian.
  • Masa pemulihan lebih cepat karena tidak ada jaringan mata yang diangkat (tidak merusak lensa asli mata).

Tak hanya itu, kelebihan lain dari kelebihan Phakic IOL dibanding softlens adalah tidak mengganggu suplai oksigen ke kornea. Hal ini karena lensa yang digunakan berada di dalam mata, bukan di permukaan kornea. Lensa yang digunakan juga tidak menutup kontak langsung kornea dengan udara.

Selain itu, phakic IOL juga membuat lensa tidak memengaruhi air mata dan pelumasan alami pada mata. Dengan demikian, risiko hipoksia kornea yang sering terjadi pada pemakai soft lens jangka panjang tidak ditemukan pada Phakic IOL.

Baca Juga: Apakah Setelah LASIK Mata Bisa Minus Lagi?

Soft lens memang praktis dan banyak digunakan, tetapi pemakaian setiap hari dalam jangka panjang membawa risiko, terutama infeksi kornea dan hipoksia akibat suplai oksigen yang terganggu.

Phakic IOL hadir sebagai solusi mata minus tinggi selain kontak lens, dengan keunggulan utama tidak mengganggu kornea dan memberikan penglihatan tajam secara stabil. Bagi Anda yang sudah lama menggunakan softlens, terutama dengan minus tinggi atau mata kering, konsultasi ke dokter mata menjadi langkah penting untuk menentukan pilihan koreksi penglihatan yang paling aman.

Lakukan konsultasi kesehatan mata Anda di klinik mata IEC Eye Care Jakarta dan dapatkan penanganan dari dokter spesialis mata profesional dan berpengalaman.

Referensi:

×