5 Penyebab Mata Plus (Hipermetropia) & Awal Pencegahannya

penyebab-mata-plus

Mata plus atau hipermetropia sering dianggap sebagai gangguan penglihatan yang hanya dialami orang tua. Padahal, kondisi ini juga dapat terjadi sejak usia anak-anak hingga dewasa muda. Banyak orang baru menyadari dirinya mengalami rabun dekat saat mulai sering merasa cepat lelah saat membaca, bekerja di depan layar, atau sulit melihat objek jarak dekat dengan jelas.

Pemahaman mengenai penyebab mata plus penting agar kondisi ini tidak dianggap sepele. Tanpa penanganan yang tepat, hipermetropia dapat memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, serta kesehatan mata secara keseluruhan.

Melalui artikel ini, kita akan membahas apa yang membuat mata jadi plus, faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya rabun dekat, serta langkah pencegahan yang dapat Anda lakukan sejak dini.

Baca juga: Jenis Sakit Mata pada Anak: Penyebab, Gejala & Penanganannya

Apa Itu Mata Plus (Hipermetropia)?

apa-itu-mata-plus-atau-hipermetropia

Hipermetropia atau mata plus adalah kelainan refraksi mata di mana cahaya yang masuk ke mata tidak difokuskan tepat di retina, melainkan jatuh di belakang retina. Akibatnya, objek jarak dekat terlihat buram, sementara objek jarak jauh bisa terlihat lebih jelas, terutama pada tahap awal.

Pada kondisi tertentu, terutama jika derajatnya cukup tinggi, hipermetropia juga dapat menyebabkan penglihatan jarak jauh menjadi kurang optimal.

Baca juga: Ciri-ciri Retina Mata Bermasalah, Tidak Boleh Diabaikan

Bagaimana Mata Bisa Menjadi Plus?

penyebab-mata-plus-hipermetropia

Dalam mata yang normal, kornea dan lensa memiliki kelengkungan yang seimbang sehingga cahaya dapat difokuskan tepat di retina. Pada hipermetropia, terjadi ketidakseimbangan struktur mata yang menyebabkan fokus cahaya bergeser. 

Hipermetropia ini disebabkan oleh beberapa faktor. Di bawah ini 5 penyebab hipermetropia atau rabun dekat yang perlu Anda ketahui.

1. Bola Mata Pendek

Penyebab paling umum hipermetropi adalah bola mata yang lebih pendek dibandingkan bola mata normal. Sehingga, cahaya jatuh dan terfokus di belakang retina. Hal ini menyebabkan penderitanya kesulitan melihat objek dari dekat, mata jadi bekerja keras untuk memfokuskan penglihatan, mata cepat lelah, sakit kepala, hingga mata tegang.

2. Bentuk Kornea

Penyebab hipermetropi lainnya adalah bentuk kornea yang terlalu datar. Kornea yang datar atau tingkat kelengkungan yang kurang dapat menyebabkan hipermetropi karena tidak mampu membelokkan cahaya dengan baik agar jatuh tepat di retina. Hal ini membuat fokus mata menjadi berkurang. 

3. Fleksibilitas Lensa

Ketiga, lensa alami mata dapat kehilangan fleksibilitasnya seiring berjalannya waktu. Sehingga, mata menjadi lebih sulit untuk fokus pada objek yang dekat. Walaupun kondisi ini lebih dikenal sebagai presbiopia, pada orang yang sudah memiliki kecenderungan hipermetropia, penurunan akomodasi atau elastisitas mata dapat memperparah mata plus yang sudah ada. Akibatnya, keluhan rabun dekat muncul lebih cepat dan lebih berat dibandingkan dengan orang berstruktur mata normal.

4. Kebiasaan yang Tidak Sehat

Meski bukan penyebab utama, kebiasaan buruk dapat memperburuk kondisi mata plus dan mempercepat gejala. Beberapa kebiasaan yang tidak sehat untuk mata antara lain:

  • Membaca dengan jarak terlalu dekat
  • Penggunaan gadget dalam waktu lama tanpa jeda
  • Pencahayaan yang kurang memadai
  • Mata kurang istirahat

Kebiasan ini akan membuat otot mata bekerja terus-menerus, sehingga menjadi cepat lelah dan gejala hipermetropia menjadi lebih cepat dirasakan.

5. Genetik

Hipermetropi dapat diturunkan dalam keluarga. Ini menjadi salah satu faktor risiko penyebab mata plus yang paling umum. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki hipermetropia, kemungkinan anak mengalami kondisi serupa akan meningkat.

Struktur mata, seperti panjang bola mata dan bentuk kornea, sebagian besar ditentukan sejak lahir. Anak dengan faktor genetik hipermetropia mungkin belum menunjukkan gejala yang jelas karena mata masih mampu melakukan kompensasi dengan cara meningkatkan kinerja otot mata. Namun, seiring bertambahnya usia dan meningkatkan tuntutan visual, gejala mata plus umumnya akan mulai terasa.

Baca juga: Mengenal Katarak Kongenital, Seperti Apa Penyebab dan Cara Mengatasinya?

Pencegahan Mata Plus yang Bisa Dilakukan

Meskipun tidak semua penyebab mata plus dapat dicegah, ada beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko dan memperlambat perburukan kondisi.

1. Lakukan Pemeriksaan Mata Rutin

Pemeriksaan mata secara berkala memungkinkan deteksi dini gangguan refraksi, termasuk hipermetropia. Dengan diagnosis lebih awal, koreksi dapat dilakukan sebelum keluhan semakin berat.

2. Terapkan Kebiasaan Visual yang Sehat

Demi menjaga kesehatan mata, Anda dapat melakukan kebiasaan yang menjaga mata. Biasakan untuk membaca dengan jarak yang cukup, mengatur pencahayaan ruangan dengan baik, dan memiliki waktu istirahat yang cukup.

3. Batasi Waktu Layar Berlebihan

Paparan layar yang terlalu lama dapat meningkatkan ketegangan mata. Pastikan Anda memberikan waktu istirahat yang cukup untuk mata, terutama jika bekerja di depan komputer.

4. Gunakan Alat Bantu Penglihatan Sesuai Anjuran

Kacamata atau lensa kontak yang diresepkan dokter mata membantu mengoreksi fokus cahaya dan mengurangi beban kerja mata.

Kapan Harus ke Dokter Mata?

Segera konsultasikan ke dokter spesialis mata jika Anda mengalami:

  • Keluhan rabun dekat yang menetap
  • Sakit kepala berulang tanpa sebab jelas
  • Mata cepat lelah saat membaca
  • Kesulitan fokus dalam aktivitas jarak dekat

Pemeriksaan menyeluruh di fasilitas kesehatan mata seperti Klinik IEC Eye Care akan membantu menentukan kondisi penglihatan dan penanganan yang paling sesuai.

Mata plus atau hipermetropia merupakan gangguan refraksi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari genetik, struktur mata, hingga kebiasaan visual. Memahami penyebab mata plus dan menerapkan langkah pencegahan sejak dini dapat membantu menjaga kualitas penglihatan dan mencegah keluhan yang lebih berat di kemudian hari.

Jika Anda memiliki keluhan penglihatan atau ingin memastikan kondisi mata tetap sehat, klinik mata IEC Eye Care siap memberikan layanan pemeriksaan dan konsultasi oleh dokter spesialis mata berpengalaman.

Referensi:

9 Tips Mencegah Rabun Dekat Semakin Parah

Glaukoma

Artikel direview oleh dr. Nelandriani Yudapratiwi, SpM

Rabun dekat, atau hipermetropia, adalah kondisi mata di mana Anda mengalami kesulitan melihat objek jauh dan dekat dengan jelas. 

Kondisi ini bisa menjadi lebih parah seiring bertambahnya usia atau akibat kebiasaan buruk yang dilakukan sehari-hari. Ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk mencegah rabun dekat semakin parah. 

Dalam artikel ini, Anda dapat mencari tahu tentang 9 tips penting menjaga kesehatan mata dan mengurangi risiko penurunan penglihatan.

1. Lakukan Pemeriksaan Mata Secara Rutin

Pemeriksaan mata secara rutin sangat penting untuk mendeteksi perubahan pada mata Anda sedini mungkin. 

Menurut American Academy of Ophthalmology, orang dewasa yang berusia 40 tahun ke atas disarankan untuk memeriksakan mata setidaknya sekali setiap dua tahun.

Bisa juga melakukan pemeriksaan mata lebih sering jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan masalah mata .

2. Gunakan Kacamata yang Sesuai dengan Resep

Menggunakan kacamata yang sesuai dengan resep mata Anda adalah langkah penting dalam mencegah rabun dekat semakin parah. 

Kacamata yang tidak sesuai dapat memaksa mata Anda bekerja lebih keras, yang bisa memperburuk kondisi rabun dekat. Pastikan Anda mengganti lensa kacamata sesuai dengan perkembangan kondisi mata Anda.

3. Hindari Penggunaan Layar yang Berlebihan

Paparan layar digital yang berlebihan dapat menyebabkan kelelahan mata, yang bisa memperburuk kondisi rabun dekat. The Vision Council melaporkan bahwa lebih dari 70% orang dewasa mengalami gejala kelelahan mata digital, seperti mata kering, sakit kepala, dan penglihatan kabur. 

Untuk mencegah hal ini, cobalah untuk membatasi waktu penggunaan layar dan lakukan istirahat secara teratur dengan aturan 20-20-20: setiap 20 menit, lihatlah sesuatu yang berjarak 20 kaki (6 meter) selama 20 detik.

4. Terapkan Pola Hidup Sehat

Pola hidup sehat seperti mengonsumsi makanan bergizi yang kaya akan vitamin A, C, dan E, serta omega-3 dapat membantu menjaga kesehatan mata. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Journal of Ophthalmology menunjukkan bahwa diet yang kaya akan antioksidan dapat mengurangi risiko penurunan fungsi mata. Selain itu hindari merokok dan konsumsi alkohol berlebihan karena keduanya dapat merusak pembuluh darah di mata.

5. Gunakan Pencahayaan yang Cukup

Pencahayaan yang baik sangat penting untuk menjaga kesehatan mata Anda. Membaca atau bekerja dalam cahaya yang redup dapat membuat mata bekerja lebih keras, yang dapat memperburuk rabun dekat. Pastikan Anda selalu menggunakan pencahayaan yang cukup saat bekerja atau membaca.

6. Istirahatkan Mata Secara Berkala

Mata Anda butuh istirahat, terutama jika Anda sering bekerja di depan layar komputer. Cobalah untuk mengistirahatkan mata setiap 20 menit dengan melihat ke kejauhan selama 20 detik.

Metode ini dikenal sebagai aturan 20-20-20 dan telah terbukti efektif dalam mengurangi kelelahan mata .

7. Hindari Membaca di Tempat Tidur

Membaca di tempat tidur atau dalam posisi yang tidak nyaman dapat meningkatkan stres pada mata, yang bisa memperburuk rabun dekat. Cobalah untuk selalu membaca dalam posisi duduk yang nyaman dengan pencahayaan yang baik.

8. Gunakan Kacamata Pelindung Saat Beraktivitas di Luar Ruangan

Paparan sinar UV dari matahari dapat merusak mata. Oleh karena itu, sangat penting untuk menggunakan kacamata pelindung yang dapat menyaring sinar UV saat Anda beraktivitas di luar ruangan. The American Optometric Association merekomendasikan untuk memilih kacamata hitam yang mampu menyaring 99% hingga 100% sinar UV .

9. Pertimbangkan Terapi Mata

Terapi mata, seperti latihan mata atau penggunaan alat bantu optik, dapat membantu memperbaiki fungsi mata dan mengurangi gejala rabun dekat. Konsultasikan dengan dokter mata untuk mengetahui jenis terapi yang tepat untuk kondisi Anda.

Terapi ini biasanya disarankan untuk orang yang mengalami gejala rabun dekat yang signifikan atau yang kondisinya tidak dapat diatasi hanya dengan kacamata.

Mengenal Ciri-ciri Rabun Dekat yang Patut Anda Waspadai 

Artikel direview oleh dr. Nelandriani Yudapratiwi, SpM

Rabun dekat, atau istilah medisnya hipermetropia, adalah kondisi mata yang tidak bisa melihat objek dengan jelas, baik objek itu berada di jarak dekat maupun jauh. Penderita rabun dekat bisa melihat semua objek yang jaraknya jauh dengan lebih jelas dibandingkan objek dekat. 

Gangguan penglihatan ini terjadi akibat cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus dengan tepat pada retina, melainkan jatuh di belakangnya. 

Kalau Anda mengalami gangguan mata rabun dekat, maka bisa jadi Anda akan mengalami kesulitan saat membaca buku, menjahit, atau membaca tulisan di ponsel. Anda terpaksa harus menjauhkan ponsel demi bisa membaca apa yang tertulis di layar.

Di masa lalu, rabun dekat dianggap sebagai gangguan penglihatan bagi orang yang berusia 40 tahun ke atas. Padahal ternyata anak-anak maupun remaja juga bisa mengalaminya. 

Lalu, bagaimana keadaan mata seseorang yang mengalami rabun dekat? Apa akibatnya Jika seseorang rabun dekat? Apa saja ciri-ciri yang perlu diwaspadai? Bagaimana cara mencegahnya? Solusi apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya? Untuk menjawab semua pertanyaan ini, simak ulasan lengkapnya di dalam artikel ini.

Bagaimana Keadaan Mata Seseorang yang Menderita Rabun Dekat?

Penyebab rabun dekat terjadi karena adanya kelainan refraksi mata di mana bentuk bola mata terlalu pendek atau kornea mata kurang melengkung. 

Padahal untuk bisa melihat dengan jelas, cahaya yang masuk ke mata akan melalui lensa mata dan kornea dan kemudian cahaya difokuskan tepat di retina sehingga objek bisa terlihat jelas.

Nah pada penderita rabun dekat, cahaya yang masuk tidak terfokus dengan baik pada retina  dan malah jatuh di belakang retina. Inilah yang membuat penglihatan pada objek dekat menjadi buram, objek jadi tidak jelas, atau malah berbayang.

Apa Akibatnya Jika Seseorang Rabun Dekat?

Ketika Anda mengalami rabun dekat, maka tak hanya penglihatan saja yang terganggu lho, tetapi Anda juga akan tidak nyaman dalam beraktivitas sehari-hari hingga bisa memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.

Rabun dekat bisa membuat Anda kesulitan saat membaca, menulis, bekerja di depan layar untuk waktu yang lama, bahkan bisa kesulitan saat perlu melakukan pekerjaan yang membutuhkan fokus pada objek berjarak dekat. Jika bekerja jadi terasa sulit, otomatis produktivitas pun bisa mengalami penurunan.

Dalam salah satu hasil penelitiannya, American Academy of Ophthalmology bahkan menyebutkan kalau orang yang menderita rabun dekat memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami kecelakaan kerja maupun kecelakaan lalu lintas. 

Lalu apa yang harus dilakukan? Lanjutkan membaca untuk mengenali ciri-ciri rabun dekat sehingga Anda bisa melakukan pencegahan.

Gejala Awal dan Ciri-Ciri Mata Akan Mengalami Rabun Dekat

Rabun dekat dapat berkembang secara perlahan dan seringkali tidak Anda sadari hingga akhirnya kondisi menjadi parah dan butuh upaya lebih keras untuk mengatasinya. 

Alih-alih membiarkan kondisi penglihatan terganggu, lebih baik kenali dulu gejala awal dan ciri-ciri rabun dekat dari penjelasan di bawah ini:

1. Mata Mudah Merasa Lelah dan Sering Mengalami Pusing

Mata yang mudah lelah dan sering mengalami pusing menjadi gejala awal dari rabun dekat atau hipermetropia. Biasanya gejala ini Anda rasakan ketika harus melakukan aktivitas yang membutuhkan fokus intens, seperti membaca atau bekerja di depan layar komputer dalam waktu tertentu. 

Fokus yang intens membuat mata bekerja lebih keras dan otot-otot di sekitar mata menjadi tegang. Bahkan menurut penelitian dari National Institutes of Health (NIH), inilah yang kemudian menimbulkan ketegangan pada mata dan membuat Anda merasa pusing di sekitar dahi dan pelipis.

Sayangnya, kebanyakan orang menganggap gejala tersebut akibat bekerja terlalu keras dan mengabaikan kemungkinan adanya gangguan pada penglihatan. Akibatnya, kondisi mata semakin buruk dan masalah gangguan penglihatan jadi semakin meningkat. 

Jadi kalau Anda yang saat ini tidak menggunakan kacamata atau belum pernah terdeteksi adanya gangguan pada mata, kemudian mengalami ciri-ciri mata rabun dekat, lebih baik segera memeriksakan diri ke dokter mata ya untuk dicari tahu penyebab pusing yang Anda rasakan.

2. Sulit Melihat Benda Berjarak Dekat Secara Jelas

Jika Anda mulai merasa kesulitan untuk melihat objek yang berjarak dekat, seperti membaca teks di ponsel atau melihat detail kecil pada objek, ini bisa jadi tanda awal rabun dekat. 

Sederhananya bisa Anda amati dari kebiasaan membaca teks di ponsel. Kalau Anda mulai menjauhkan posisi ponsel hanya demi bisa membaca teks atau melihat detail objek pada layar, lebih baik segera periksakan mata Anda. 

Karena jika dibiarkan, rabun dekat cenderung memburuk kondisinya seiring bertambahnya usia. Menurut American Academy of Ophthalmology, hal ini karena perubahan alami pada lensa mata yang menjadi lebih keras dan kurang fleksibel.

Informasi tersebut diperkuat pula oleh literatur dari EyeWiki yang menyebutkan kalau Anda sudah menemukan adanya ciri-ciri rabun dekat dan tidak langsung memeriksakan diri, bisa jadi gangguan penglihatan yang Anda alami akan semakin memburuk.

3. Penglihatan Kabur & Seperti Ada Awan Menutupi Mata

Ketika katarak mulai muncul dan mempengaruhi penglihatan Anda, lensa mata yang biasanya jernih menjadi keruh. 

Hal ini membuat cahaya yang masuk ke mata tersebar dan tidak terfokus dengan baik ke retina. Dampak berikutnya, penglihatan Anda pun menjadi buram, seperti melihat melalui jendela yang berembun atau berkabut. 

Kondisi ini dapat terjadi secara bertahap, dan banyak orang awalnya tidak menyadari bahwa mereka mengalami penurunan penglihatan. 

Dalam ulasan salah satu artikel di Mayo Clinic ada penjelasan mengenai gejala ini sering kali memburuk di malam hari atau dalam kondisi pencahayaan yang kurang, karena lensa yang keruh membuat cahaya yang redup sulit difokuskan dengan jelas​.

4. Mata Sering Terasa Perih dan Mudah Berair

Jangan abaikan mata yang sering terasa perih atau mudah berair. Begitulah peringatan yang ada dalam artikel di WebMD. 

Mata yang sering terasa perih dan mudah berair bisa merupakan indikasi kalau mata Anda sedang berusaha keras berfokus pada objek dekat.

Banyak kasus yang menyebutkan kalau penderita awalnya sudah menemukan gejala ini, namun mereka salah mengartikannya sebagai kelelahan biasa. 

Padahal sebenarnya mata yang sering mengeluarkan air mata bisa jadi merupakan tanda adanya masalah refraksi.

Nah, sekarang Anda sudah tahu bagaimana kondisi mata ketika mengalami rabun dekat, akibatnya, hingga gejala awal dan ciri-ciri mata rabun dekat yang perlu diwaspadai. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Maka melakukan pemeriksaan mata rutin bisa jadi cara pencegahan terbaik. Cara lain, Anda bisa membaca penjelasannya pada artikel berjudul: Cara Mencegah Rabun Dekat dan Solusi untuk Mengatasinya.

Apa Itu Rabun Dekat: Pengertian, Penyebab, Gejala, dan Bedanya dengan Rabun Jauh

Artikel direview oleh dr. Nelandriani Yudapratiwi, SpM

Hipermetropia atau rabun dekat adalah salah satu gangguan penglihatan yang relatif umum. Jumlah penderita hipermetropia terbanyak di usia awal sekolah dasar diikuti oleh dewasa yang berusia lebih dari 40 tahun. Penderita rabun dekat kesulitan melihat objek yang jaraknya jauh dan dekat. Penglihatan semakin buram bila jarak objek semakin dekat. 

Apa yang menjadi penyebab rabun dekat? Cari tahu penjelasan lengkap mengenai rabun dekat, gejala, hingga bedanya dengan rabun jauh di artikel kali ini.

Apa Itu Rabun Dekat?

Hipermetropia atau rabun dekat adalah kondisi di mana mata seseorang tidak mampu memfokuskan cahaya secara tepat pada retina saat melihat objek jauh dan objek dekat, namun lebih terganggu untuk objek dekat.

Ini terjadi karena ukuran panjang bola mata yang terlalu pendek atau kornea mata terlalu datar sehingga menyebabkan cahaya terfokus di belakang retina, bukan tepat pada retina. 

Akibatnya, objek yang dekat terlihat buram, sementara objek yang jauh masih terlihat lebih jelas. Itulah sebabnya rabun dekat dikenal pula dengan mata plus.

Umumnya, gangguan penglihatan yang satu ini akan dialami oleh orang yang berusia 40 tahun ke atas akibat kemampuan fokus dekat yang berkurang. Sementara jika balita atau anak-anak mengalami rabun dekat, masih ada kemungkinan kondisi ini bisa membaik seiring dengan pertambahan usia dan pertumbuhan bola mata.

Struktur dan Bagian Mata yang Mempengaruhi Rabun Dekat

Sebelum membahas lebih lengkap mengenai rabun dekat dan penyebabnya, ada baiknya Anda tahu dulu mengenai dua bagian mata yang penting dalam melihat objek, yaitu:

1. Kornea Mata

Kornea adalah lapisan transparan di bagian paling depan mata yang melindungi iris, pupil, dan ruang anterior. 

Fungsi kornea ini merupakan jendela mata yang membiaskan atau membelokkan cahaya yang masuk sehingga dapat difokuskan pada lensa untuk menghasilkan gambar yang jelas pada retina. 

Kornea memiliki bentuk cembung dan tidak memiliki pembuluh darah, tetapi kaya akan saraf, sehingga sangat sensitif terhadap sentuhan dan rasa sakit.

2. Lensa Mata

Lensa mata adalah bagian transparan dari mata yang terletak tepat di belakang iris (bagian berwarna mata) dan pupil. 

Fungsi lensa mata untuk memfokuskan cahaya yang masuk ke mata sehingga membentuk gambar yang tajam pada retina (lapisan saraf di bagian belakang mata).

Nah, supaya Anda bisa melihat dengan jelas, maka cahaya harus masuk melewati kornea dan lensa. Ketika kornea membiaskan cahaya, maka lensa mata langsung memfokuskan cahaya tersebut ke retina yang ada di bagian belakang mata.

Sinyal cahaya kemudian akan dikirim jaringan saraf retina ke otak, dan membuat Anda bisa melihat gambar dengan jelas.

Pada kasus gangguan mata rabun dekat, cahaya yang masuk tidak bisa terfokus tepat di retina, melainkan terfokus pada bagian belakang retina. Inilah yang kemudian membuat Anda mengalami penglihatan yang buram atau kabur saat melihat objek dekat.

Apa Penyebab Mata Rabun Dekat?

Pada pembahasan di atas, Anda pasti sudah bisa memahami kalau penyebab utama rabun dekat adalah akibat bentuk kornea dan lensa mata yang tak bisa memfokuskan cahaya dengan tepat ke retina.

Inilah yang kemudian membuat penglihatan Anda menjadi kabur saat melihat benda yang jaraknya jauh dan dekat. 

Anda pasti penasaran, apa sih yang membuat bentuk kornea dan lensa mata menjadi seperti itu? Apakah karena bawaan lahir? Atau ada penyebab lain? Supaya tidak bingung, berikut penjelasan penyebab rabun dekat:

1. Bawaan Lahir

Cukup banyak anak-anak yang ketika lahir sudah mengalami rabun dekat. Tetapi pada banyak kasus hipermetropia pada anak, kondisi ini akan membaik dengan sendirinya seiring dengan pertambahan usia anak dan perkembangan organ bola mata.

2. Faktor Genetik

Jika salah satu atau kedua orang tua Anda mengalami rabun dekat, ada kemungkinan besar Anda juga akan mengalaminya.

Faktor genetik ini cenderung mempengaruhi struktur bola mata, khususnya yang berkaitan dengan bentuk, ukuran bola mata, hingga kemampuan kornea membiaskan cahaya yang masuk.

3. Proses Penuaan

Proses penuaan membuat tubuh mengalami perubahan secara alami, termasuk pada lensa mata. Ketika masih muda, lensa mata lebih fleksibel dan bisa dengan mudah menyesuaikan fokus pada objek dekat dan jauh. 

Seiring dengan bertambahnya usia, elastisitas pada lensa mata akan secara bertahap berkurang. Di saat yang sama, protein yang terdapat pada lensa mata menjadi lebih kaku begitu Anda mulai memasuki usia 40 tahun, sehingga mengurangi kemampuan lensa mata berakomodasi dan menyesuaikan fokus. 

4. Kondisi Medis dan Trauma Mata

Kondisi medis pada mata seperti katarak, mikroftalmia, nanoftalmia, dan aniridia dapat menyebabkan hipermetropia. 

Adanya trauma pada mata, seperti benturan, cedera atau luka pada mata, bisa merusak kornea, lensa mata, hingga retina yang membuat penglihatan Anda menjadi tidak jelas.

Gejala Rabun Dekat yang Wajib Anda Tahu

Oke, Anda sudah tahu pengertian rabun dekat itu apa, struktur mata yang mempengaruhi kemampuan penglihatan, dan penyebab rabun dekat. Lalu bagaimana caranya tahu apakah Anda terkena rabun dekat?

Dari banyak ulasan yang tayang di berbagai situs kesehatan, seperti HaloDoc, KlikDokter, hingga Mayo Clinic ada beberapa gejala gangguan penglihatan yang sebaiknya Anda waspadai dan berpotensi mengarah ke gejala rabun dekat, antara lain:

  • Penglihatan menjadi buram ketika melihat benda yang dekat, namun bisa melihat sedikit lebih jelas ke arah yang jauh. 
  • Mulai merasa kesulitan saat membaca buku atau tulisan kecil di kertas. Anda terpaksa menjauhkan posisi buku agar tetap bisa membaca dengan baik.
  • Mata sering terasa lelah, ada rasa terbakar ketika harus fokus lama pada sesuatu yang dekat, berair, dan tegang.
  • Sering mengalami sakit kepala.
  • Harus menyipitkan mata supaya bisa melihat objek dekat dengan jelas.
  • Penglihatan tidak fokus ketika harus melihat segala sesuatu yang dekat.
  • Membutuhkan cahaya yang lebih terang agar bisa membaca buku dengan nyaman.

Jika semua gejala di atas mulai Anda rasakan, segeralah pergi ke dokter mata dan periksakan kondisi mata Anda. Lebih cepat lebih baik ya.

Perbedaan Rabun Dekat dan Rabun Jauh

Meskipun rabun dekat (hipermetropia) dan rabun jauh (miopia) sama-sama  merupakan gangguan refraksi, namun keduanya ternyata memiliki perbedaan dalam cara memfokuskan cahaya dan mempengaruhi kemampuan penglihatan Anda.

Baca penjelasan di bawah ini untuk memahami perbedaan rabun dekat dan rabun jauh:

1. Mata Rabun Dekat/Hipermetropia

Pada mata yang mengalami rabun dekat, cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus ke retina akibat bola mata yang terlalu pendek. Inilah yang kemudian membuat cahaya malah jatuh di belakang mata, bukan di retina.

Retina adalah selaput yang melapisi bagian dalam bola mata dan berfungsi sebagai pengirim sinyal gambar visual ke otak sehingga Anda bisa melihat suatu objek dengan jelas.

Karena cahaya yang masuk jatuh di belakang retina, tentunya pengiriman sinyal terganggu. Maka penglihatan Anda jadi buram ketika melihat objek dekat, sementara untuk objek yang berada jauh dari posisi Anda bisa terlihat sedikit lebih jelas.

2. Rabun Jauh/Miopia

Sebaliknya pada kasus mata mengalami rabun jauh, cahaya terfokus di depan retina karena bentuk bola mata yang terlalu panjang. Kondisi ini mengakibatkan penglihatan Anda jadi tidak jelas ketika melihat objek yang jauh, sementara untuk objek dekat bisa terlihat jelas.

Biasanya untuk mengatasi miopia, dokter mata akan menyarankan agar Anda menggunakan kacamata berlensa cekung yang membantu memindahkan titik fokus kembali ke retina.
Apakah saat ini Anda mengalami gejala gangguan penglihatan buram ketika sedang membaca buku atau bekerja di depan laptop? Atau Anda sering kesulitan melihat objek yang padahal berada di dekat Anda, misalnya wajah seseorang, namun terlihat kabur? Jika iya, segera periksakan diri Anda. Selain itu, kenali juga yuk Ciri-ciri Rabun Dekat, Cara Mencegah, dan Solusi untuk Mengatasinya.